Jumat, 22 Oktober 2021

Aksi Nyata Modul 3.1

 Persiapan Assemen Nasional Berbasis Komputer (ANBK)

SD Negeri Grogolpenatus


1.   Latar Belakang Situasi yang Dihadapi

               Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) adalah penilaian yang dilakukan di setiap jenjang sekolah mulai dari SD, SMP, SMA/ SMK dan sederajat. Berbeda dengan UNBK yang dilaksanakan pada akhir tahun sekolah, ANBK dikerjakan di kelas 5 SD, 8 SMP, dan 11 SMA. Hal tersebut merupakan program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar murid yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran. Informasi-informasi tersebut diperoleh dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. Hasil akhir Asesmen Nasional murni bertujuan untuk perbaikan mutu pembelajaran dan tidak akan memberikan konsekuensi terhadap individu pesertanya.

              Asesmen dapat berjalan dengan baik dengan bantuan dari proktor. Menyikapi hal tersebut, Kepala SD Negeri Grogolpenatus (Samirah,S.Pd.) memilih salah satu guru untuk menjadi proktor. Proktor dibekali tentang pengelolaan aplikasi Asesmen Nasional tahun 2021. Pembekalan tersebut sebagai upaya persiapan menghadapi Asesmen Nasional tingkat SD yang akan berlangsung dalam waktu dekat. Proktor menjadi kunci teknis untuk mensukseskan penyelenggaraan ANBK di masing-masing sekolah sehingga murid akan lebih siap pada pelaksanaan ANBK.


Kegiatan simulasi ANBK

(gelombang 1)



2.   Alasan Melakukan Aksi

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makariem bahwa Asesmen Nasional berbeda dengan UN, tidak perlu persiapan khusus. Sekolah hanya perlu menyiapkan logistik untuk pelaksanaan. Namun, untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi, melalui rapat sekolah diputuskan untuk melakukan berbagai persiapan menggunakan penerapan dilema etika berkaitan dengan ANBK tersebut. Digunakanlah 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip penyelesaian dilema dan 9 langkah pengujian keputusan untuk menganalisis kasus tersebut.

3.   Hasil Aksi Nyata

a.  Tujuan Aksi Nyata

Aksi Nyata ini dilakukan untuk mendapatkan keputusan yang tepat sebagai pemimpin pembelajaran yang berpihak kepada murid  dalam menghadapi Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK).

b.  Proses Aksi Nyata yang dilakukan

Untuk menganalisis berbagai upaya persiapan ANBK menggunakan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip penyelesaian dilema dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dengan hasil sebagai berikut.

1)     Paradigma yang terjadi

§  Individu melawan Masyarakat (individual vs comunity)

§  Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)  

2)     Prinsip yang dipakai

§  Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

§  Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

3)     9 langkah pengujian keputusan didapat hasil analisis:

a)     Nilai-nilai yang saling bertentangan

Nilai kebaikan dengan nilai kasihan

b)     Siapa yang terlibat dalam situasi

Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, murid, pengawas, dan Dinas Pendidikan Kabupaten

c)     Fakta-Fakta yang relevan

§  Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) tidak mengevaluasi hasil belajar murid, tetapi lebih mengevaluasi sistem pendidikan

§  Peserta ANBK dipilih secara acak sehingga dapat merepresentasikan seperti apa sistem pendidikan di sekolah tersebut

§  ANBK bukan mengukur kemampuan mata pelajaran khusus, melainkan kompetensi mendasar seperti literasi dan numerasi dapat diajarkan oleh seluruh guru mata pelajaran.

d)     Pengujian Benar atau Salah

(1)    Uji Legal

Tidak ada pelanggaran hukum

(2)    Uji Regulasi

       Tidak ada pelanggaran kode etik/standar profesional

(3)    Uji Intuisi

Tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral yang bersifat universal

(4)    Uji Halaman depan koran

Menimbulkan rasa tidak nyaman

(5)    Uji Panutan/Uji Idola

e)     Pengujian Paradigma Benar lawan Benar:

§  Individu melawan Masyarakat (individual vs comunity)

§  Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

f)      Melakukan Prinsip Resolusi

§   Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

§   Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

g)     Investigasi Opsi Trilema

Mencari opsi yang ada dari 2 opsi yang muncul sebagai penyelesaian kreatif dan tidak terpikir sebelumnya, yaitu pengembangan salah satu keterampilan abad 21, berpikir kritis dan analitis dalam pemecahan masalah.

h)     Buat Keputusan

Melaksanakan pembelajaran yang mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis dalam pemecahan masalah

i)       Lihat lagi keputusan dan refleksikan

Setelah keputusan diambil dan hasilnya direfleksikan, keputusan dirasakan tepat sebagai satu solusi jalan keluar.

B.  P

Pembelajaran yang didapatkan dari pelaksanaan aksi nyata ini adalah menjadi lebih terarah dalam mengambil keputusan atas kasus yang muncul dalam bentuk dilema etika. Melalui materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran, saya mendapatkan banyak pengetahuan baru yang dapat saya terapkan di sekolah.

D


Kegiatan simulasi ANBK
(Gelombang 2)

Rencana Tindak Lanjut dari Modul 3.1 Materi Pengambilan keputusan sebagai Pemimpin pembelajaran, 4 Paradigma, 3 Prinsip, 9 langkah pengujian keputusan mampu menghasilkan keputusan-keputusan yang berpihak pada murid sehingga setiap murid memiliki kesempatan untuk menikmati merdeka belajar dalam pembelajaran sepanjang hayat.







Kamis, 21 Oktober 2021

Koneksi Antarmateri

Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran


Pratap Triloka merupakan sebuah konsep pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara selaku pendiri organisasi pergerakan nasional Indonesia yaitu Taman Siswa. Konsep pendidikan ini digagas atas dasar kajian terhadap ilmu pendidikan (pedagogi) yang diperoleh dari tokoh pendidikan ternama yaitu Maria Montessori dari Italia dan Rabidranath Tagore dari India. Dalam Pratap Triloka terdapat tiga unsur penting yaitu "Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani", yang mengandung makna bahwa seorang guru (pemimpin pembelajaran) haruslah memberikan suri teladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya (murid). Guru harus selesai dengan dirinya sendiri yang kemudian itu terefleksikan dalam keteladanan setiap mengambil keputusan terhadap murid-murid dan orang-orang di sekitarnya. Keteladanan menjadi sebuah hal yang penting karena akan berpengaruh pada tingkat kepercayaan orang-orang yang dipimpinnya.

Pada umumnya suatu keputusan dibuat dalam rangka untuk memecahkan permasalahan atau persoalan (problem solving) dan setiap keputusan yang dibuat pasti ada tujuan yang hendak dicapai. Oleh karena itu, agar pengambilan keputusan efektif maka seorang guru selain berpegang pada nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam diri, perlu menerapkan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan sebagai berikut:

1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini

2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

4. Pengujian benar atau salah

     a. Uji legal

     b. Uji regulasi/ standar profesional

     c. Uji intuisi

     d. Uji halaman depan koran

     e. Uji panutan/ idola

5. Pengujian paradigma benar lawan benar

     a. Individu lawan masyarakat (individual vs community)

     b. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

     c. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyality)

     d. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

6. Melakukan prinsip resolusi

     a. Berpikir berbasis hasil akhir (ends based thinking)

     b. Berpikir berbasis peraturan (rule based thinking)

     c. Berpikir berbasis rasa peduli (care based thinking)

7. Investigasi opsi trilema

8. Buat keputusan

9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan


Dalam dunia pendidikan diera modern saat ini, menuntut banyak sekali keputusan yang harus dibuat baik yang memiliki dampak yang luas maupun yang sempit. Terkadang dalam pengambilan keputusan tidak selalu lancar. Banyak permaslahan-permasalahan yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Apalagi bila keputusan yang diambil terdapat konflik atau dapat menyebabkan konflik. Situasi konflik dapat terjadi bila kepentingan dua pengambil keputusan atau lebih saling bertentangan dalam situasi yang kompetitif.

Walaupun dalam kenyataannya kita membuat keputusan setiap hari, jarang sekali kita merenungkan sejenak tentang bagaimana sebenarnya kita membuat keputusan. Tak seorangpun sempurna sebagai pengambil keputusan, akan tetapi kita menghendaki sukses paling tidak untuk keputusan-keputusan paling penting. Pengambilan keputusan yang baik dapat dicapai melalui proses belajar dan latihan serta pengalaman yang cukup. Agar dapat memperbaiki kualitas pengambilan keputusan, seorang guru harus secara terus-menerus mencari jalan untuk lebih bijaksana, rasional, sistematis, dan terstruktur didalam pengambilan keputusan.




Jumat, 27 Agustus 2021

2.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1

 PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI 

DAN UPAYA MEWUJUDKAN PROFIL PELAJAR PANCASILA.

 

Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi pada hakikatnya pembelajaran yang memandang bahwa murid itu berbeda dan dinamis. Menurut menurut Tomlinson (2000) pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah pembelajaran yang diindividualkan. Namun, lebih cenderung kepada pembelajaran yang mengakomodir kekuatan dan kebutuhan belajar murid dengan strategi pembelajaran yang independen.

Berdasarkan kaidah tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus, dimana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan.

 

Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi di Kelas

Pembelajaran berdiferensiasi dapat dilksanakan jika sekolah sudah memiliki kebijakan atau komitmen tentang penerapannya. Komitmen dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi merupakan sebuah janji yang saling mengikat hasil belajar murid, mengembangkan profesional dan proses kolaborasi yang menjamin keberhasilan belajar bagi semua. Komitmen tersebut meliputi: a) menggunakan asesmen, b) menggunakan hasil asesmen untuk mendiferensiasikan lingkungan belajar, pembelajaran, dan evaluasi, c) memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid, dan d) membuat penyesuaian (bisa dilakukan kapan saja) untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak dapat diperkirakan.

Pembelajaran berdiferensiasi dilaksanakan berdasarkan beberapa prinsip yaitu a) asesmen yang berkesinambungan dalam pembelajaran, b) guru menjamin proses pembelajaran yang mengakui keberadaan semua murid, c) pengelompokkan murid secara fleksibel, d) adanya kolaborasi dan koordinasi yang terus menerus antara guru kelas/ guru bidang studi dengan guru pendidik khusus, e) guru dan murid bekerja bersama membangun komitmen untuk mewujudkan hasil belajar yang diharapkan, f) penggunaan waktu yang fleksibel dalam merespon proses dan hasil belajar murid, g) strategi pembelajaran yang bervariasi, dan h) murid dinilai dengan berbagai cara sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan setiap murid.

Strategi pembelajaran berdiferensiasi mencakup 3 komponen yaitu diferensiasi konten (materi), proses, dan produk. Diferensiasi konten merujuk pada strategi dalam membedakan pengorganisasian dan format penyampaian konten yang disampaikan oleh guru. Diferensiasi proses merujuk pada strategi untuk membedakan proses yang harus dijalani oleh murid yang dapat memungkinkan mereka untuk berlatih dan memahami isi (content) materi. Sedangkan diferensiasi produk merujuk pada strategi untuk memodifikasi produk hasil belajar murid, hasil latihan, penerapan, dan pengembangan apa yang telah dipelajari.

 

Pemenuhan Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan profil pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. Kepedulian pada murid dalam memperhatikan kekuatan dan kebutuhan murid menjadi fokus perhatian dalam proses pembelajaran ini. Untuk memenuhi kebutuhan murid tersebut, guru terlebih dahulu harus melakukan pemetaan kebutuhan belajar individu murid. Pemetaan tersebut dilakukan minimal berdasarkan tiga (3) aspek yaitu kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid.

Pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan belajar (readiness) murid bertujuan untuk memodifikasi tingkat kesulitan pada bahan pembelajaran, sehingga dipastikan murid terpenuhi kebutuhan belajarnya. Pemetaan kebutuhan belajar murid mempertimbangkan minat murid dalam merancang pembelajaran memiliki tujuan diantaranya: a) membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan keinginan mereka sendiri untuk belajar; b) menunjukkan keterhubungan antara semua pembelajaran; c) menggunakan keterampilan atau ide yang familiar bagi murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang familiar atau baru bagi mereka, dan; d) meningkatkan motivasi murid untuk belajar. Sedangkan tujuan dari pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien.

Berdasarkan pemetaan kebutuhan belajar murid tersebut guru dapat merancang, menerapkan/ melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan murid itu sendiri. Terpenuhinya kebutuhan belajar murid yang berbeda-beda tersebut, maka prestasi belajar optimal dapat tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan.

 

Pencapaian hasil belajar yang optimal melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Penerapan pembelajaran berdiferensiasi ini bertujuan untuk membantu semua murid dalam belajar, meningkatkan motivasi dan hasil belajar murid, menjalin hubungan yang harmonis guru dan murid, membantu murid menjadi pelajar yang mandiri, dan meningkatkan kepuasan guru. Dengan kata lain pembelajaran berdiferensiasi merupakan penyesuaian terhadap minat, preferensi belajar, kesiapan murid agar tercapai peningkatan hasil belajar.

Saat guru merespon kebutuhan belajar siswa, berarti guru mendiferensiasikan pembelajaran dengan menambah, memperluas, menyesuaikan waktu untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal. Guru sudah memperlakukan dan melayani murid dengan adil. Tidak ada lagi murid yang merasa tidak diperhatikan oleh guru. Minat dan bakat murid akan semakin berkembang dengan pembelajaran berdiferensiasi ini. Murid dengan minat yang berbeda dengan gaya belajar yang berbeda serta dengan kemampuan yang berbeda akan dapat dengan nyaman belajar sesuai dengan posisi mereka. Sehingga kebutuhan yang mereka inginkan akan terpenuhi yang tentunya ketika rasa nyaman dan senang mengikuti proses pembelajaran terjadi. Hal ini akan berkorelasi positif terhadap hasil belajarnya

 

Kaitan antara Pembelajaran Berdiferensiasi dengan Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara

Proses pembelajaran berdiferensiasi lebih menekankan pada pemenuhan kebutuhan individu murid, karena setiap anak itu unik. Seperti yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa setiap anak merupakan suatu pribadi yang unik, yang mempunyai karakter khas yang membedakannya dengan anak lainnya. Sesungguhnya dari sejak dilahirkan setiap anak mempunyai perilaku, watak, karakter, bakat, minat, tingkat emosional, kecerdasan yang berbeda. Oleh karena itu setiap anak atau murid harus memperoleh penghargaan maupun perlakuan yang berbeda sebagai seorang individu.

Guru menurut Ki Hadjar Dewantara guru diibaratkan seorang petani dan murid adalah benihnya. Seorang petani tugasnya adalah merawat dan menjaga benih-benih itu. Tentu saja benih yang tumbuh itu berbeda-beda dalam perkembangannya, ada yang cepat tumbuh subur, lambat dan sebagainya. Seorang petani harus memberikan perawatannya sesuai dengan kebutuhan benih-benih yang berbeda tadi sampai semuanya berbuah. Begitu juga kita sebagai guru harus jeli dalam memperhatikan keberagaman kebutuhan murid, ada yang lambat, sedang, dan cepat. Ada yang suka agama, sains, seni, olahraga, dan sebagainya. Ada yang suka belajar dengan cepat melalui penglihatan, pendengaran, atau kinestetik. Semua harus kita akomodir dalam proses pembelajaran, karena kita hanya dapat menuntun lakunya bukan kodratnya. “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.” (Ki Hajar Dewantara).

Dengan pembelajaran berdiferensiasi murid dan guru merdeka belajar berkolaborasi bersama menggali dan mengembangkan potensi murid dan mengakomodasi karakteristik masing-masing untuk mewujudkan selamat dan bahagia.


Kaitan antara Pembelajaran Berdiferensiasi dengan Nilai-Nilai Dan Peran Guru Penggerak

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan: a) menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi, b) kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, c) penilaian berkelanjutan, d) tanggapan atau respon guru terhadap kebutuhan belajar muridnya, dan e) manajemen kelas yang efektif. Disinilah nilai-nilai guru penggerak (mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak kepada murid) akan terukur.

Pembelajaran berdiferensiasi juga merupakan proses siklus mencari tahu tentang murid dan merespons belajarnya berdasarkan perbedaan. Ketika guru terus belajar tentang keberagaman muridnya, maka pembelajaran yang profesional, efesien, dan efektif akan terwujud. Memahami murid secara terus menerus membangun kesadaran tentang kekuatan dan kelemahan murid, mengamati, menilai kesiapan, minat, dan preferensi belajar. Menggunakan semua preferensi tentang bagaimana murid mendemonstrasikan preferensi belajarnya (isi, proses, dan produk belajar). Disinilah urgensinya peran guru penggerak untukmenjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas paktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antarguru, dan mewujudkan kepemimpinan murid.

 

Kaitan antara Pembelajaran Berdiferensiasi dengan Visi Guru Penggerak

Pembelajaran berdiferensiasi memungkinkan guru melihat pembelajaran dari berbagai perspektif. Ketika guru melakukan pembelajaran berdiferensiasi mereka menjauh dari melihat diri mereka sendiri sebagai pemilik dan penyebar pengetahuan dan bergerak ke arah melihat diri mereka sendiri sebagai penyelenggara kesempatan belajar. Guru dengan demikian akan lebih fokus pada “membaca” murid mereka.

Diferensiasi menghendaki seorang guru untuk menyadari bahwa ruang kelas harus menjadi tempat di mana guru akan selalu berusaha mengejar pemahaman terbaik mereka tentang pengajaran dan pembelajaran setiap hari, dan juga untuk mengingat setiap hari bahwa tidak ada praktik yang benar-benar praktik terbaik kecuali jika itu berhasil untuk setiap individu. Disinilah letak betapa pentingnya guru memiliki visi, dan mengembangkan visi untuk mewujudkan keberpihakan pada murid-murid sehingga mereka bertumbuh dengan maksimal.


Kaitan antara Pembelajaran Berdiferensiasi dengan Budaya Positif

Pembelajaran berdiferensiasi sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam dunia pendidikan. Kepedulian pada murid dalam memperhatikan kekuatan dan kebutuhan murid menjadi fokus perhatian dalam pembelajaran berdiferensiasi. Akan tetapi profil pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid ini mengharuskan pendidik mencurahkan perhatian dan memberikan tindakan untuk memenuhi kebutuhan individu murid tersebut. Untuk melakukannya bukanlah hal yang mudah, bahkan sangat sulit karena diperlukan orang-orang yang bersedia untuk terus berinovasi dan terbuka terhadap perubahan zaman.

Membuat perubahan positif dan konstruktif kecil saja di sekolah biasanya membutuhkan waktu dan bersifat bertahap. Apalagi menjadikan pembelajaran berdiferensiasi ini sebagai tradisi dan kebiasaan keseharian. Kita sadari betul bahwa untuk melakukan sebuah perubahan itu dibutuhkan tekad dan upaya yang keras, konsisten, dan berkesinambungan serta kolaborasi dengan semua pihak. Untuk itu seorang guru harus tetap melangkah sedikit demi sedikit dan konsisten daripada berlari namun terus berhenti. Itulah sejatinya peranan sentral guru penggerak.

Sabtu, 31 Juli 2021

Aksi Nyata Modul 1.4 Program Guru Penggerak

 Penerapan Budaya Positif

A. Latar Belakang
       Budaya sekolah tidak hanya dilihat dari visi misi, tata tertib, kondisi sekolah meliputi sarana dan prasarana, kebersihan serta hal-hal lain yang dapat ditangkap oleh indra penglihat kita. Akan tetapi ada juga nilai-nilai dan kepercayaan yang diyakini oleh warga sekolah, meskipun tidak terlihat secara langsung namun dapat dirasakan sebagai cerminan dari kebiasaan-kebiasaan yang ada di sekolah. Jadi, budaya positif di sekolah tidak dapat berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dan saling mempengaruhi satu sama lain. 
       Proses belajar mengajar yang kondusif membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, seperti kepala sekolah, guru, murid, komite dan orang tua. Namun yang terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran yaitu guru dan murid, maka dari itu diantara keduanya perlu menjalin hubungan yang baik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mewujudkannya yaitu dengan membuat kesepakatan kelas. 

B. Deskripsi Aksi Nyata
       Dalam penerapan budaya positif di sekolah perlu adanya pemikiran dan kesepakatan yang digali dari asumsi dasar normatif, nilai-nilai serta impian kolektif dari semua warga sekolah. Demikian juga dengan budaya positif di kelas pun perlu adanya kesepakatan seluruh anggota kelas, baik guru maupun murid. Kesepakatan yang dibuat dapat diadopsi dan diadaptasi dari praktik baik atau kelebihan-kelebihan yang sudah dimiliki, sehingga kelemahan-kelemahan yang ada menjadi tidak relevan.

       Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam membuat kesepakatan kelas (secara daring), antara lain:

1. Murid diajak untuk membayangkan tentang kelas impian.

2. Guru meminta murid untuk menuliskan harapan mereka tentang situasi dan kondisi kelas yang diinginkan saat proses pembelajaran.

3. Hasil tulisan murid tentang harapan dan keinginan mereka difoto dan dikirim melalui WA grup, boleh juga mengirimkan video saat membacakan tulisan tersebut.

4. Setelah semua berpartisipasi, guru mengajak murid berdiskusi membahas harapan-harapan tentang kelas impian yang telah mereka tulis untuk menemukan kesamaan, kemudian dibuat daftar hal-hal yang dirasa penting dan perlu untuk disepakati bersama.

5. Hasil kesepakatan dipajang sebagai pengingat bagi semua warga kelas.


Proses pembuatan kesepakatan kelas

       Dalam membuat kesepakatan kelas pastikan semua terlibat didalamnya, guru dan murid melakukan perannya masing-masing. Baik guru maupun murid mempunyai hak yang sama untuk menyampaikan harapan dan keinginan tentang suasana pembelajaran di dalam kelas.

C. Hasil Aksi Nyata

       Kesepakatan kelas memuat hal-hal penting yang merupakan kesepakatan bersama. Kesepakatan tersebut hendaknya disusun menggunakan bahasa yang singkat, padat dan menggunakan kata-kata positif sehingga mudah dipahami. Kesepakatan kelas juga hendaknya dibuat secara tertulis sehingga dapat dilihat sewaktu-waktu dan direfleksikan secara berkala.




D. Pembelajaran Yang Didapat Dari Pelaksanaan Aksi Nyata
  
     1. Kegagalan
Setiap sekolah tentunya sudah memiliki budaya positifnya masing-masing. Namun untuk mengawali penerapan budaya positif yang lain membutuhkan proses panjang dan waktu yang lama. Karena membuat kesepakan kelas merupakan hal baru, maka dalam pelaksanaannya pun tidak langsung berhasil. Beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan antara lain:
a. Berhubung kegiatan dilakukan secara daring, maka permasalahan sinyal menjadi kendala utama 
b. Beberapa murid masih merasa kurang percaya diri
c. Baik guru maupun murid belum konsisten dalam pelaksanaannya
d. Belum optimalnya dukungan dari orang tua 

    2. Keberhasilan
Dengan adanya kesepakatan kelas ini, murid menjadi lebih antusias dan aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan, disiplin dalam mengumpulkan tugas dan beberapa murid mulai percaya diri dalam menyampaikan pendapat. 

E. Rencana Perbaikan

       Melakukan kegiatan secara daring bukanlah sesuatu yang mudah. Ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan rencana awal. Berikut ini merupakan apaya-upaya yang bisa dilakukan untuk memperbaiki hal tersebut:

1. Melakukan refleksi setiap akhir kegiatan 

2. Menjalin kerja sama dengan orang tua

3. Berkolaborasi dengan rekan guru melalui forum komunitas praktisi "Inspirasi Gropen" untuk mencari solusi dari permasalahan yang terjadi




 



Kamis, 29 Juli 2021

MERINTIS KOMUNITAS PRAKTISI      

 Pandemi covid 19 berdampak pada berbagai bidang kehidupan, tidak terkecuali bidang pendidikan. Kurangnya kesiapan dan terbatasnya ruang gerak guru dan murid memunculkan terjadinya kesenjangan. Untuk mengantisipasi hal tersebut dibutuhkan kolaborasi antar guru, setidaknya dalam satuan pendidikan. Hal tersebut melatarbelakangi terbentuknya komunitas praktisi di SD Negeri Grogolpenatus, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen.

      Sebagai persiapan awal tahun ajaran baru 2021/2022, pada hari Sabtu, 10 Juli 2021 dibentuklah komunitas praktisi di SD Negeri Grogolpenatus. Meskipun saat itu tidak dihadiri oleh semua guru karena kondisi kesehatan yang kurang baik, namun kegiatan berjalan dengan lancar. Hal yang dibahas yaitu tentang bagaimana menerapkan metode yang tepat, media yang menarik meskipun pembelajaran secara daring sehingga murid terlayani kebutuhan belajarnya. Kegiatan ini sudah mendapatkan ijin serta dukungan penuh dari Bapak Akhmad Ruslan, S.Pd.I selaku kepala sekolah.

      Dengan adanya komunitas ini diharapkan guru di SD Negeri Grogolpenatus dapat saling berbagi dan bekerja sama untuk memperbarui cara pembelajaran serta mengatasi permasalahan yang mungkin terjadi. Adapun rencana pelaksanaan yang akan ditempuh dalam komunitas praktisi ini antara lain:

1. Menganalisa kebutuhan murid

2. Memfasilitasi kegiatan belajar

3. Menerapkan budaya positif

4. Menyelenggarakan pembelajaran yang bermakna

5. Evaluasi dan refleksi

      Keberlangsungan komunitas praktisi ini bergantung pada komitmen masing-masing guru untuk tetap pada kesepakatan awal yaitu melaksanakan kegiatan rutin 2 kali dalam 1 bulan, setiap hari Sabtu pertama dan Sabtu terakhir. Seiring perjalanannya, disepakati bahwa komunitas praktisi ini bernama "Inspirasi Gropen" sebagai wadah yang menginspirasi guru-guru lainnya untuk berkreasi dan berinovasi dalam pembelajaran yang berpusat pada murid dengan menyesuaikan bakat dan minat serta perkembangan zaman.




Penerapan Budaya Positif Di Kelas

 Dalam menerapkan budaya positif perlu adanya pembiasaan dan kesepakatan, begitu juga di kelas. Kesepakatan kelas tidak hanya mengenai peraturan yang harus ditaati dan konsekuensi bagi murid yang melanggarnya, dibutuhkan keterlibatan antara guru dengan murid untuk saling menyepakati kondisi kelas yang diharapkan. Dengan adanya kesepakatan kelas diharapkan guru dan murid berkomitmen untuk melaksanakan kesepakatan tersebut.

Kesepakatan kelas bukan semata-mata mengajak murid menuliskan janji-janji bersama kemudian menempelkannya di dinding kelas. Kesepakatan kelas berfungsi sebagai media komunikasi dalam melatih tanggung jawab, khususnya tanggung jawab untuk senantiasa melaksanakan kesepakatan yang telah dibuat. Meskipun saat ini pembelajaran masih dilakukan di rumah masing- masing secara daring karena pandemi covid 19 yang belum juga usai, namun perlu adanya kesepakatan agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam membuat kesepakatan kelas, antara lain:

1. Murid diajak untuk membayangkan tentang kelas impian.

2. Guru meminta murid untuk menuliskan harapan mereka tentang situasi dan kondisi kelas yang diinginkan saat proses pembelajaran.

3. Hasil tulisan murid tentang harapan dan keinginan mereka difoto dan dikirim melalui WA grup, boleh juga mengirimkan video saat membacakan tulisan tersebut.

4. Setelah semua berpartisipasi, guru mengajak murid berdiskusi membahas harapan-harapan tentang kelas impian yang telah mereka tulis untuk menemukan kesamaan, kemudian dibuat daftar hal-hal yang dirasa penting dan perlu untuk disepakati bersama.

5. Hasil kesepakatan dipajang sebagai pengingat bagi semua warga kelas.

Dalam membuat kesepakatan kelas pastikan semua terlibat didalamnya, guru dan murid melakukan perannya masing-masing. Baik guru maupun murid mempunyai hak yang sama untuk menyampaikan harapan dan keinginan tentang suasana pembelajaran di dalam kelas.


Video harapan kelas impian




Menuliskan kesepakatan kelas 

Kesepakatan kelas memuat hal-hal penting yang merupakan kesepakatan bersama. Kesepakatan tersebut hendaknya disusun menggunakan bahasa yang singkat, padat dan menggunakan kata-kata positif sehingga mudah dipahami. Kesepakatan kelas juga hendaknya dibuat secara tertulis sehingga dapat dilihat sewaktu-waktu dan direfleksikan secara berkala.


Dengan adanya kesepakatan kelas ini, murid menjadi lebih antusias dan aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, disiplin mengumpulkan tugas dan mulai percaya diri dalam menyampaikan pendapat. Adapun kendala yang dihadapi yaitu terbatasnya akses untuk lebih dekat dengan murid karena di masa pandemi seperti saat ini,  komunikasi dilakukan dengan menggunakan handphone. Sinyal ataupun kuota menjadi faktor penghambat yang sering terjadi sehingga interaksi antara guru dengan murid pun menjadi terhambat pula.


Kamis, 24 Juni 2021

Aksi Nyata Pembelajaran Daring Bermakna dan Menyenangkan

      Kebijakan belajar dari rumah yang diambil Kemendikbud sebagai upaya mencegah penyebaran wabah covid-19 sudah memasuki tahun kedua. Hampir seluruh pemerintah daerah telah menerapkan kebijakan tersebut sebagai bentuk memprioritaskan keselamatan peserta didik. SD Negeri Grogolpenatus sebagai salah satu sekolah negeri di Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, terhitung sejak Maret 2020 juga telah memutuskan untuk melakukan kebijakan pembelajaran dari rumah sebagai bentuk tanggap darurat mencegah penyebaran virus corona.
       Pembelajaran daring merupakan hal baru di SD Negeri Grogolpenatus, atau mungkin di sekolah lain pun demikian. Akan tetapi diharapan bahwa sistem pembelajaran daring ini tidak mengurangi kualitas dan keaktifan siswa. Efektifitas pembelajaran daring terletak pada kreatifitas guru dalam menyajikan pembelajaran daring  yang menarik, menyenangkan dan mudah dipahami sehingga para siswa tidak merasa bosan dan tetap produktif meskipun belajar dari rumah. Dengan demikian, program belajar dari rumah dapat menjadi solusi di masa pandemi dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas.
     Adapun yang menjadi kunci sekaligus tantangan agar pembelajaran jarak jauh dapat menjadi pembelajaran bermakna dan menyenangkan untuk siswa, antara lain:
1. Kemampuan guru memanfaatkan teknologi
    Dalam memanfaatkan media teknologi, guru dapat menunjukkan dengan presentasi Zoom, penugasan melalui Google Classroom, grup WhatsApp, pre-test atau post-test dengan Quizizz, dan upload hasil pembelajaran melalui Instagram.


2. Menyatukan persepsi dan konsentrasi
      Guru hendaknya mampu menyatukan persepsi dan konsentrasi siswa-siswanya meski berjauhan. Hal yang perlu dilakukan guru ntuk mewujudkan hal tersebut yaitu menjalankan perannya sebagai motivator, fasilitator, mediator, dan komunikator agar dapat menjalin ikatan batin dengan semua siswanya.

3. Penguatan karakter siswa
      Menyampaikan pesan untuk menjadi siswa tangguh, mengingat dalam kondisi masyarakat yang sedang diuji secara fisik dan mental akibat penyebaran covid-19 yang berdampak pada berbagai bidang kehidupan, termasuk pada pembelajaran. Interaksi antara guru dan siswa menjadi serba terbatas dalam berkomunikasi, namun siswa senantiasa diberikan motivasi sehingga mampu beradaptasi dengan hal-hal baru.

4. Berkolaborasi dengan orang tua


      Selain guru, orang tua juga mempunyai peranan penting dalam memotivasi siswa untuk disiplin belajar, semangat melaksanakan tugas, aktif dalam menghidupkan interaksi online dengan guru maupun dengan siswa lain, serta tetap berusaha berkarya melalui pemanfaatan berbagai media dan sumber sesuai kebutuhan belajar siswa.

        Menciptakan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menyatakan bahwa guru hendaknya mampu menuntun anak sesuai kodratnya, baik kodrat alam maupun kodrat zaman. Kodrat alam yaitu sesuai tahap perkembangan anak, sedangkan kodrat zaman yaitu disesuaikan dengan perkembangan zaman. Saat ini perkembangan zaman begitu cepat, penggunaan teknologi dalam pembelajaran pun sudah sewajarnya dilakukan, namun penerapannya perlu disesuaikan dengan dunia anak yang pada umumnya masing senang dengan kegiatan bermain, menyanyi, menggambar dan menari.



        Dalam menciptakan pembelajaran daring yang bermakna dan menyenangkan bukanlah hal yang mudah diwujudkan, ada berbagai kendala yang dihadapi diantaranya keterbatasan kemampuan siswa dan orang tua dalam menggunakan handphone, kendala sinyal, dan tidak semua siswa mempunyai handphone pribadi. Untuk mengatasi hal tersebut, siswa dibentuk kelompok kecil dengan teman sekelas yang rumahnya berdekatan. Dengan belajar kelompok diharapkan terbentuk kepemimpinan murid, dapat saling melengkapi, dan saling membantu. Sesekali guru melakukan kunjungan ke rumah siswa untuk memantau secara langsung perkembangan belajar para siswanya.





    
        

RTL PGP

    Rencana Tindak Lanjut  Pasca Pendidikan Guru Penggerak                Kompetensi Guru Penggerak mencakup empat kategori me...